Penyegar dahaga religi di pusat Kota Hanoi

Setahun ada kalau 15-20 orang masuk Islam

Hanoi (ANTARA) – Waktu sudah memasuki pukul 18.00 di Hanoi, Vietnam, tetapi suasana kota tampak masih begitu terang, tak seperti di Jakarta pada waktu yang sama yang redup karena sudah memasuki senja.

Memang tidak ada perbedaan waktu antara Hanoi dengan Jakarta yang mengacu Waktu Indonesia Barat (WIB), namun sore di kota itu memang terasa lebih panjang.

Hingga memasuki waktu Maghrib yang ditunjukkan mesin pencarian berbasis web di ponsel, yakni pukul 18.28 waktu setempat, tak sekalipun terdengar sayup-sayup suara adzan, apalagi kumandang.

Maklum, Vietnam yang berjuluk Negeri Paman Ho adalah negara berpaham sosialis-komunis dengan masyarakat Muslim sebagai minoritas.

Tak heran jika bendera negara Vietnam yang bergambar bintang bersanding gambar palu arit dengan warna merah menyala sudah menjadi pemandangan jamak di Hanoi.

Hampir tak ada aktivitas keagamaan yang mencolok di Hanoi meski ada banyak kuil dan pagoda, sedikit gereja, dan ternyata ada juga masjid. Meski hanya satu-satunya.

Masjid Al Noor Hanoi, Vietnam. (ANTARA/Zuhdiar Laeis)

Namanya, Masjid Al Noor atau Al Noor Mosque yang terletak di pusat kota Hanoi, tepatnya di Jalan Hang Luoc Nomor 12, Hanoi. Kawasan perniagaan yang teramat padat dan ramai.

Letaknya menyempil diapit padatnya bangunan pertokoan, namun tak akan susah mencarinya karena hampir pasti semua warga Hanoi mengetahui lokasi masjid itu.

Gerbang Masjid Hanoi terlihat kokoh dengan model kubah meski tak terlalu besar, sementara nama masjid terukir jelas berwarna hijau dalam tiga bahasa, yakni bahasa Inggris, Arab, dan Vietnam.

Memasuki masjid, keheningan langsung terasa, begitu kontras dengan hiruk pikuk kegiatan duniawi dan perdagangan dari deretan toko yang ada di sepanjang jalan di depannya.

Berusia satu abad

Masjid Al Noor Hanoi memang berukuran tak begitu besar, namun sanggup menampung sekitar 200 orang untuk sholat berjamaah, terutama saat sholat Jumat.

Di samping ruang utama masjid berarsitektur kuno dengan dominasi warna hijau dan putih itu, terdapat Alquran, berbagai kitab, dan buku tersusun rapi berderet di rak-rak lemari.

Lokasi masjid juga tak jauh dari terminal bus, Stasiun Kereta Api Long Bien, dan Pasar Dong Xuan yang merupakan pasar tradisional pertama dan bersejarah di Hanoi.

Siapa sangka, masjid tersebut sudah berusia lebih dari satu abad karena dibangun pada 1890. Namun, bangunannya masih tampak begitu kokoh.


Ustaz Nasir, Imam Masjid Al Noor Hanoi, Vietnam. (ANTARA/Zuhdiar Laeis)

Ustaz Nasir, Imam Masjid Al Noor Hanoi menjelaskan bahwa masjid tersebut dibangun oleh kaum pedagang dari India yang datang ke kota tersebut dahulu kala.

Masjid Hanoi, lanjut Nasir yang fasih bahasa Arab, Inggris, dan Melayu itu, kerap didatangi para pelancong. Paling banyak dari Indonesia dan Malaysia.

“Mereka (pelancong) datang untuk beribadah. Datang di waktu-waktu sholat, terutama sholat Jumat,” jelas ayah tiga putri itu, dua di antaranya kembar, dengan ramah.

Nasir memperdalam Islam di Kedah, Malaysia, selama tiga tahun, dilanjutkan ke Madinah, Arab Saudi, selama enam tahun, sebelum ditugaskan menjadi imam di Masjid Hanoi.

Pria keturunan Champ-Vietnam itu memperkirakan komunitas Muslim di Hanoi saat ini berjumlah 130 orang, baik warga asli maupun keturunan dari pedagang Islam yang datang di masa silam.

“Kebanyakan warga Muslim sini mengikuti mazhab Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali). Kalau saya sendiri (mengikuti mazhab) Syafi’i (Imam Syafi’i),” kata suami dari Asma itu.

Kehidupan beragama

Sebagai negara sosialis-komunis, Pemerintah Vietnam menurut Nasir ternyata tidak terlalu mengekang kehidupan beragama masyarakat.

Memang adzan tak dikumandangkan dengan pengeras suara, melainkan cukup diperdengarkan di dalam masjid, tetapi secara umum kegiatan ibadah tidak dilarang.

Buktinya, Nasir masih bisa menjalankan aktivitasnya sebagai imam masjid, mengimami saat sholat lima waktu, menggelar kajian agama, hingga mengislamkan warga Hanoi.

“Setahun ada kalau 15-20 orang masuk Islam. Saya yang mengislamkan. Sebab dia (masuk) Islam, bisa karena kawin (menikah) atau memang ingin. Semacam dapat hidayah lah,” kata Nasir.

Haji Mohammad, warga Hanoi sedang menyapu halaman Masjid Al, Imam Masjid Al Noor Hanoi, Vietnam. (ANTARA/Zuhdiar Laeis)

Di sekitar masjid juga tersebar beberapa rumah warga Muslim. Ada salah satunya Haji Mohammad, warga asli Hanoi yang ditemui sedang menyapu membersihkan halaman masjid.

​​​​​

Hanya bisa berbahasa Vietnam, pria berusia 69 tahun itu mengaku sudah menganut Islam sejak lahir dan sudah pula berhaji pada 2013.

Ada pula Abdul Kader, pemuda yang mengelola restoran halal milik keluarganya, persis di samping Masjid Hanoi. Nama restorannya Zaynab Halal Food.

Dalam tubuh Kader yang juga bekerja sebagai akuntan itu mengalir darah Vietnam-Pakistan dari kakek buyutnya. Keluarganya menjadi salah satu bagian dari pengurus masjid.

I was born as a moslem. My Pakistani blood comes from the father of my grandfather,” kata pemilik nama Vietnam Doan Hong Minh itu.

Jadi, jika kebetulan sedang berkunjung ke Hanoi dan merasakan dahaga religi, cobalah berkunjung ke Masjid Al Noor untuk sedikit menyegarkannya.

Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2022