Agar tidak hanya bulu tangkis dan angkat besi

Di Olimpiade Paris, panjat tebing diproyeksikan bisa menghasilkan medali setidaknya satu medali emas karena kita punya juara dunianya

Jakarta (ANTARA) – Olimpiade Paris masih dua tahun lagi, namun Indonesia tampaknya tengah memetakan apa yang bisa didapat dari Olimpiade itu, termasuk dari cabang mana saja medali bisa ditambang.

Selama ini hanya lima cabang olahraga yang menyumbangkan medali untuk total 47 medali yang diperoleh Indonesia dari OIimpiade. Angka ini sudah termasuk sepuluh medali eksibisi, antara lain 4 medali taekwondo pada Olimpiade Barcelona 1992 dan satu medali wushu pada Olimpiade Beijing 2008.

Namun jika medali-medali eksibisi dikecualikan, maka sepanjang mengikuti Olimpiade dari masa ke masa, Indonesia sudah mengumpulkan total 37 medali.

Baca juga: Menpora yakin satu emas panjat tebing Olimpiade di tangan Indonesia

Semuanya berasal dari tiga cabang olahraga, yakni bulu tangkis, angkat besi dan panahan.

Bulu tangkis adalah yang paling banyak mempersembahkan medali, termasuk seluruh dari 8 medali emas yang ditambang Indonesia dari berbagai Olimpiade. Tapi adalah angkat besi yang konsisten mempersembahkan medali dalam enam Olimpiade terakhir.

Sejak pertama kali mempersembahkan 1 medali perak dan 2 medali perunggu pada Olimpiade Sydney 2000, angkat besi tak pernah absen mempersembahkan medali sampai terakhir di Tokyo tahun lalu.

Total medali yang dipersembahkan angkat besi dari enam Olimpiade terakhir adalah 15 medali yang terdiri atas 7 medali perak dan 8 medali perunggu.

Bulu tangkis masih dominan dengan 26 medali yang terdiri atas 10 emas, 8 perak dan 8 perunggu. Jumlah ini termasuk 2 emas, 2 perak dan 1 perunggu pada Olimpiade Muenchen 1972 dan Olimpiade Seoul 1988 saat bulu tangkis masih nomor eksibisi.

Panahan yang mengawali tradisi medali Indonesia tak pernah lagi mempersembahkan medali sejak trio Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman, Kusuma Wardhani meraih medali perak beregu putri pada Olimpiade Seoul 1988.

Sedangkan taekwondo yang unjuk gigi ketika masih cabang eksibisi dalam Olimpiade Barcelona 1992, belum berhasil mempersembahkan medali sampai kini. Demikian juga wushu yang mencuri satu medali eksibisi pada Olimpiade Beijing 2008.

Jika itu semua menjadi ukuran, maka bulu tangkis dan angkat besi kemungkinan besar masih akan menjadi tambang medali Indonesia pada Olimpiade Paris 2024.

Pertanyaannya, berapa medali yang bisa diperoleh kedua cabang itu dua tahun nanti? Namun pertanyaan lebih menggoda justru dari cabang apa lagi Indonesia bisa mendapatkan medali?

Panahan, taekwondo, dan wushu bisa menjadi jawaban untuk pertanyaan kedua itu. Tapi mungkin dari cabang lain, salah satunya yang sangat prospektif adalah panjat dinding atau panjat tebing.

Baca juga: Panjat tebing Indonesia bertekad sumbang emas di Paris 2024

Veddriq dan Kiromal

Sekalipun sejak Kejuaraan Dunia pertama pada 1991 di Frankfurt sampai terakhir di Moskow pada 2021 belum pernah memperoleh medali, Indonesia adalah salah satu nama besar dalam cabang ini, akibat sukses dalam seri Piala Dunia panjat dinding.

Cabang ini memiliki dua event terpenting. Pertama, Piala Dunia yang diadakan secara serial setiap tahun di beberapa tempat. Kedua, kejuaraan dunia yang diselenggarakan setiap dua tahun selama paling lama 10 hari.

Indonesia belum pernah memperoleh medali kejuaraan dunia, tapi dalam beberapa tahun terakhir berbicara banyak dalam Piala Dunia, tepatnya pada nomor speed.

Pada 2016, Komite Olimpiade Internasional (IOC) resmi melombakan panjat dinding dalam Olimpiade Tokyo 2020 yang tertunda setahun karena pandemi COVID-19.

Dari 3 sampai 6 Agustus 2021, 40 atlet putra dan putri bertarung memperebutkan dua medali emas panjat dinding dari satu nomor, yakni nomor kombinasi yang merupakan gabungan lead, speed, dan boulder.

Medali emas putra disabet Alberto Gines Lopez dari Spanyol, sedangkan emas putri diraih atlet Slovenia Janja Garnbret.

Indonesia tidak mengirimkan atlet panjat dinding ke Olimpiade Tokyo karena tak ada atlet yang lolos kualifikasi nomor kombinasi.

Tapi seandainya Olimpiade Tokyo juga melombakan nomor speed, ceritanya akan lain karena Indonesia memiliki Veddriq Leonardo yang saat itu di ambang menjadi juara Piala Dunia 2021 dan mencetak rekor dunia dalam seri Piala Dunia di Salt Lake City, Amerika Serikat.

Baca juga: Atlet panjat tebing Indonesia Veddriq juara di Amerika Serikat

Di Salt Lake City itu Veddriq dua kali menciptakan rekor dunia pada 28 Mei 2021 atau satu setengah bulan sebelum Olimpiade Tokyo digelar dari 23 Juli sampai 8 Agustus tahun itu.

Veddriq kembali menjuarai seri Salt Lake City edisi 2022 pada 29 Mei, namun kali ini yang mempertajam rekor dunia adalah rekannya, Kiromal Katibin, yang membukukan waktu 5,10 detik pada penyisihan.

Piala Dunia 2022 diadakan di 11 tempat dalam 12 seri, mulai Meiringen di Denmark pada 8-10 April, sampai Morioka di Jepang pada 20-22 Oktober.

Speed sendiri dipertandingkan pada enam dari 12 seri itu. Sejauh ini, tiga seri speed pertama bergantian dijuarai Veddriq dan Kiromal.

Tiga seri speed berikutnya diadakan di Swiss pada 30 Juni-2 Juli, kemudian di Prancis pada 8-10 Juli, dan terakhir di Jakarta pada 22-24 September.

Baca juga: Atlet panjat tebing Kiromal Katibin kembali pertajam rekor dunia di AS

Puncaki peringkat dunia

Kini Veddriq dan Kiromal memuncaki baik peringkat dunia maupun peringkat Piala Dunia 2022.

Dalam peringkat dunia, Veddriq dan Kiromal masing-masing mengumpulkan 3.690 dan 3.040 poin, di atas peringkat ketiga Erik Noya Cardono dari Spanyol dengan 2.890 poin.

Lima atlet spesialis speed Indonesia lainnya menembus 50 besar dunia. Mereka adalah Rahmad Adi Mulyono (14), Zaenal Aripin (17), Aspar Aspar (25), Alfian Muhamad Fajri (30), dan Rharjadi Nursamsa (31).

Indonesia juga cukup berbicara dalam sektor putri speed setelah empat atletnya menembus 50 besar speed dunia, yakni Desak Made Rita Kusuma Dewi (16), Rajiah Sallsabillah (18), Nurul Iqamah (26), dan Alivany Ver Khadijah (44).

Sebelum Olimpiade 2024, masih ada seri Piala Dunia 2023, dan Kejuaraan Dunia 2023 yang diadakan di Bern, Swiss.

Jika Veddriq dan Koromal bisa mempertahankan ritme atau atlet-atlet lainnya bisa mencapai apa yang sudah direngkuh Veddriq dan Kiromal dalam dua tahun ke depan ini, maka medali Olimpiade bukan cuma harapan.

Bahkan Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali yakin cabang ini bisa mempersembahkan emas kepada Indonesia dua tahun nanti di Paris.

“Panjat tebing adalah salah satu cabang olahraga prioritas Desain Besar Olahraga Nasional (DBON). Di Olimpiade Paris, panjat tebing diproyeksikan bisa menghasilkan medali setidaknya satu medali emas karena kita punya juara dunianya,” kata Zainudin beberapa hari lalu.

Zainudin sampai menjanjikan dukungan pemerintah dengan memfasilitasi atlet-atlet ini dalam melalui pemusatan latihan nasional jangka panjang demi Olimpiade Paris 2024.

“Kami serius karena mereka sudah menjadi aset bangsa dan tentu mereka harus mengingat itu dan menjaga supaya prestasinya tetap terjaga dan terkontrol sampai Olimpiade Paris,” kata Zainudin.

Tentunya komitmen ini juga termasuk memastikan atlet-atlet ini tak ketinggalan mengikuti event-event yang bisa menjaga atlet seperti Veddriq dan Kiromal tetap menguasai dunia, termasuk Olimpiade Paris.

Ini termasuk Asian Games di mana pada 2018 Indonesia memperoleh 3 emas, 2 perak dan 1 perunggu dari cabang ini. Dan juga seri Piala Dunia dan Kejuaraan Dunia demi melanggengkan prestasi tinggi mereka sehingga medali, bahkan medali emas, Olimpiade Paris 2024 menjadi keniscayaan.

Jika itu terjadi, maka Indonesia memasuki era yang tak lagi cuma mengandalkan bulu tangkis dan angkat besi. Semoga.

Baca juga: Kemenpora dukung panjat tebing pelatnas tanpa henti tatap Olimpiade

 

COPYRIGHT © ANTARA 2022